Tawon Tin

Agaonidae

Tawon Tin (Fig wasp) adalah nama umum wasp (tawon/penyengat/penyerbuk) dari family Agaonidae, yang menyerbuki kuntum bunga pohon tin atau (tawon ini) diasosiasikan dengan pohon tin. Banyak tawon yang kini ditempatkan bersama dalam family ini secara evolusioner tidak berkaitan, tetapi ditempatkan bersama karena kesamaan hubungan mereka dengan pohon tin. Tawon Tin dewasa umumnya tidak lebih besar dari kira-kira 5mm (0,2 inci) panjangnya.

Biasannya, satu species tawon tin hanya dapat memfertilisasi bunga-bunga dari satu dari sekitar 1000 species pohon tin. Tubuh buah pohon tin, biasa disebut buah tin, terbentuk dari permukaan luar pelindung (protective outer layer [syconium]), dan ratusan bunga-bunga sangat kecil yang mekar di dalamnya. Bagian dalam syconium menjadi inkubator aman bagi telur tawon tin, dan habitat serta nutrisi bagi larva dan anak-anak tawon tin, sementara bunga-bunga di dalam syconium menerima keuntungan dari tawon tin karena diserbuki.

Pohon tin menghasilkan pola reproduktif yang sangat beragam yang menjadi latar perilaku simbiotik kompleks antara tawon tin dan pohon tin. Kebergantungan bunga-bunga pohon tin pada penyerbukan yang dilakukan tawon tin, dan kebergantungan tawon tin pada habitat dan nutrisi tubuh buah tin adalah contoh jenis khusus relasi simbiotik yang dikenal sebagai mutualisme obligat (obligate mutualism). Masing-masing species bergantung satu sama lain bagi kelangsungan hidupnya. Keduanya, pohon tin dan tawon tin, menunjukkan contoh nyata perilaku kooperatif dalam sistem biologi.

Deskripsi dan Tinjauan

Pteromalidae

Tawon tin adalah anggota ordo Hymenoptera, salah satu ordo insek terbesar, dengan karakteristik tubuh yang terbagi ke dalam tiga bagian (kepala, torak dan abdomen), sepasang antena pada kepala, tiga pasang kaki bersambung (jointed) melekat pada torak, dan abdomen yang terbagi ke dalam 11 segmen tanpa kaki atau sayap. Sebagai serangga sungguhan, hymenopteran juga dibedakan dari arthropod lainnya dengan ectognathous atau bagian-bagian mulut yang menjorok ke luar (exposed).

Hymenopteran dewasa umunya memiliki dua pasang sayap dengan venasi pendek. Sayap belakang tersambung dengan sayap depan dengan serangkaian pengait (hook) yang disebut hamuli. Hymenopteran memiliki mata majemuk dan antenanya panjang, multisegmen, dan tertutup organ-organ sensorik (Grzimek et al. 2004). Betina memiliki ovipositor –organ yang digunakan untuk meletakkan telur—yang pada beberapa spesies penyengat (wasp), semut dan lebah sudah berubah fungsi menjadi alat pertahanan, bukan untuk meletakkan telur.

Di antara Agaonidae, betinalah yang lebih terlihat sebagai insek, sementara jantannya kebanyakan tidak memiliki sayap. Satu-satunya tugas jantan adalah mengawini betina ketika masih berada di dalam syconium dan membuat lubang agar betina bisa keluar dari bagian dalam buah tin. (Dalam beberapa kasus, jantan mati di dalam syconium setelah mereka kawin). Ini merupakan kebalikan dari Strepsiptera dan bagworm, dimana jantan lebih terlihat sebagai insek dan betinanya tidak pernah meninggalkan sarang.

Klasifikasi

Ormyridae

Hymenopteran terbagi ke dalam dua subordo; Apocrita dan Symphyta. Tawon Tin termasuk ke dalam subordo Apocrita bersama lebah, semut dan penyengat (wasp) lainnya (Gzimek et al. 2004). Dalam makna luas, seekor penyengat (wasp) adalah setiap insek ordo Hymenoptera dan subordo Apocrita yang bukan lebah atau semut. Pada species-species yang termasuk ke dalam Apocrita, segmen abdominal pertamanya melekat pada metatorak dan biasanya terpisah oleh pergelangan sempit (petiole)(Grzimek et al. 2004).

Menurut pengelompokkan sekarang, family Agaonidae, yang mencakup tawon tin, bersifat polyphyletic, yakni, mencakup beberapa galur yang tidak saling terkait yang kesamaannya didasarkan pada kesamaan hubungan yang mereka miliki dengan pohon tin. Karena klasifikasi bertujuan menyusun species menurut kesamaan galur (lineage), berbagai upaya kini sedang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan ini dan memindahkan sejumlah kelompok konstituen ke family lain, terutana Pteromalidae dan Torymidae. Dengan begitu, jumlah genera dalam family ini berubah. Mungkin hanya Agaoninae harus dianggap termasuk ke dalam Agaonidae, sementara Sycoecinae, Otitesellinae dan Sycoryctinae boleh jadi dapat dimasukkan ke dalam Pteromalidae. Penempatan Sycophaginae dan Epichrysomallinae masih belum mapan.

Siklus Hidup

Eurytomidae

Sebagai hymenopteran, tawon tin adalah insek holometabolus, berarti bahwa mereka mengalami metamorfosis sempurna; larva berbeda sama sekali dari insek dewasa. Insek yang mengalami holometabolisme melewati fase larva, kemudian memasuki masa inaktif yang disebut pupa dan akhirnya menjadi dewasa (imago).

Siklus hidup tawon tin terkait sangat erat dengan pohon tin yang menjadi tempat tinggalnya. Tawon tin yang mendiami suatu pohon tin dapat, secara kasar, dikelompokkan ke dalam dua grup; penyerbuk dan bukan penyerbuk. Varietas penyerbuk membentuk simbiosis yang saling menguntungkan (mutually beneficial symbiosis) dengan pohon tin sementara varietas bukan penyerbuk bersifat parasit. Namun demikian siklus hidup kedua kelompok ini sangat serupa.

Walaupun kehidupan individu species berbeda satu sama lain, siklus hidup tawon tin secara keseluruhan adalah sbb: Pada awal siklus, betina penyerbuk yang sudah matang memasuki wadah (“buah”) melalui lubang kecil alami, ostiole. Betina ini menembus mulut buah tin yang tertutup bunga-bunga jantan. Ia kemudian meletakkan telur-telurnya pada suatu tempat di dalam bunga jantan yang tertutup oviposisi. Ketika memaksa masuk melalui ostiole, betina ini sering kehilangan sayapnya dan sebagian besar antenanya. Pada saat meletakkan telur, betina juga menyemaikan serbuk sari yang ia dapat dari buah pohon tin tempatnya semula. Serbuk sari ini menyerbuki sebagian bunga-bunga betina yang ada di permukaan bagian dalam buah tin dan mendorong bunga-bunga betina itu menjadi matang. Setelah penyerbukan, ada beberapa species tawon tin bukan penyerbuk yang meletakkan telur-telurnya sebelum buah tin mengeras. Tawon-tawon ini menjadi parasit bagi buah tin dan juga tawon-tawon tin penyerbuk. Ketika buah tin berkembang, telur-telur tawon tin menetas dan berkembang menjadi larva.

Setelah melewati fase pupal, tindakan pertama jantan yang sudah matang adalah mengawini betina. Jantan-jantan dari banyak species tawon tin tidak memiliki sayap dan tidak dapat bertahan lama di luar buah tin. Setelah kawin, banyak species tawon jantan menggali buah tin, membuat lubang bagi betina untuk bisa keluar dari buah tin.

Setelah berada di luar buah tin, tawon tin jantan segera mati. Betina meninggalkan buah tin, mengambil serbuk sari sebagaimana biasanya. Mereka kemudian terbang ke pohon tin lain dari species yang sama, meletakkan telur-telurnya dan membuat siklus kembali berulang.

Copyright © 2013 Holland Florist Bandung. Powered by Zen Cart | Red Passion theme by CssTemplateHeaven

Valid XHTML 1.0 Transitional